Hello, ini aku. Dila.
Hai, aku dilla. Dilla Amelia putri nama lengkap ku. Lihatlah KTP ku jika belum percaya. Aku biasa di panggil “dil” oleh teman sekelas ku waktu SMA. Aku suka makan jeruk, tapi tadi aku baru makan mangga. Aku tidak terlalu suka makan manga, terutama mangga dengan rasa jeruk.
Aku sudah hidup didunia 17 tahun, dan aku belum pernah mati suri.
Aku pernah berfikir untuk merasakan namanya mati suri, tapi ibu ku melarangnya “nanti kalau mati beneran gimana dil” kata ibu dengan suara falsnya.
Yang aku maksud adalah bagaimana aku akan takut mati kalau aku belum tau rasanya.
Aku suka membaca buku novel, tapi aku sulit jatuh cinta.
Banyak yang suka pada ku “dil, ini sekolah khusus manusia, bukan bidadari kaya kamu” kata teman pria di kelas ku. Itu biasa bagi ku, bukan sombong, aku memang cantik keturunan dari ibu ku. Percayalah pada ku. Atau gigit hidung mu.
Aku tidak sombong, tidak juga gendut. Maksud ku entah kenapa aku selalu membandingkan semuanya dengan Dony, seorang mantan terbaik yang pernah memelukku selama 10 menit di bandara. Pelukan terakhir sebelum berpisah. Seorang mantan yang bisa membuatku terus rindu. Rindu yang terus ada, seperti udara yang bisa membuat mu masuk angin. Terutama aku yang memang gampang masuk angin. Sebentar, aku ingin ke toilet.
Sekarang aku tinggal di jogja dengan keluarga kecil ku, tapi aku juga meninggalkan sebagian keluarga kecil ku dikalimantan. Mereka adalah teman-teman sekolah ku yang selalu meyakinkan aku kalau aku ini memang manusia, bukan malaikat atau bidadari. Percayalah,itulah teman-teman ku.
Sudah satu tahun lamanya aku mengenal Dony, teman sekelas ku dikelas 2 SMA. Dia tidak ganteng, dan bulu kakinya tidak rata “dulu bagian ini pernah luka, sekarang bulunya gak mau tumbuh dil” kata dony sambil menunjuk bagian kakinya yang pernah luka. Aku tertawa sampai azan magrib.
Harusnya kami tak pernah bertemu sama sekali, atau aku lebih memilih suka dengan sesama jenis dari pada harus membuat rindu sebesar ini. Tapi kamu pasti tahu, aku tidak mampu membuat pilihan. Kecuali untuk memilih kaos kaki merah muda atau biru muda. Itu terlalu mudah.
Ini tahun kedua aku membendung rindu, aku ingin tau kabarnya. Suaranya, keluarganya, juga jumlah saldo di kartu timezone nya. Aku bingung, harus memulai dari mana. Apa aku harus menyamar jadi tukang kredit dari BUMN atau apa.
Ya tuhan, ini membuat ku ingin makan mie instan. Tunggu, aku memang lapar.
Kalian harus tau, aku sudah terlatih menahan rindu. Jadi percayalah aku tidak akan menangis saat menelpon nya nanti. Kecuali aku menelponnya sambil menonton acara rahasia ilahi. itu menjijikan bukan ?
“Telpon lah dil, sampaikan salam dari ibu untuk Dony” itu kata ibu tadi pagi. Dan barusan ibu ku bilang demikian lagi, bedanya, tadi ibu ku mengatakannya dengan mulut yang di penuhi kripik singkong buatannya. Aku tau rasanya tidak enak, untunglah aku tidak dipaksa mencobanya.
Maksud ku ibu ku memang tidak terlalu hebat memasak, tapi dia paling hebat membuat lagu. Dulu dia punya beberapa Band. Tapi tidak terkenal. Kasian.
“Menurut ibu, aku harus berpura-pura jadi tukang kredit lagi ?” aku bertanya dengan rasa gelisah.
“Oh ibu ada ide “ ibu berfikir agak lama sambil mengerutkan dahinya. “Jadi mba-mba asuransi aja dil.”
Baiklah, jangan sampai aku mengganti ibu ku karena ide gila ini.
Tapi yang membuatku ragu adalah, apa dia sudah bisa memaafkan ku.
Apakah dia sudah melupakan kesalahan ku tentang beberapa hal dimasa lalu.
Apa dia sudah seperti seseorang saat pertama kali aku mengenalnya.
Yatuhan, perasaan ini membuat ku ingin ke toilet. Baiklah, aku masuk angin lagi.
Ada beberapa hal yang tidak ingin aku ceritakan disini, soal kami berdua, sebelum aku pindah ke jogja.
Selain meninggalkan dony, aku juga meninggalkan rasa bersalah ku.
“Mereka bilang, waktu adalah penyembuh yang baik. Semoga benar” kata Dony berbisik pada ku.
“Harus berapa juta kalimat maaf yang harus ku ucapkan untuk patah hati mu Don.” Aku melihat kedua matanya. Dia tidak melihat ku.
“Aku rasa tidak akan pernah cukup Dil.”
Aku sudah tau rasanya selingkuh, dan aku tidak ingin lagi. Kalimat tadi sudah cukup kurasa. Tidak akan ada lagi penjelasan tentang itu.
“Hallo”
“Hallo….”
Suaranya belum berubah.
Yatuhan , aku belum menyiapkan kalimat setelah “hallo.”
Aku matikan panggilan itu. Aku gunakan jari telunjuk sebelah kanan untuk memencet tombol merah yang ada di henpon ku.
Ada banyak kalimat di otak ku, tapi belum tersusun rapi. Aku butuh berbulan-bulan untuk bisa membuat kalimat yang baik.
“Hallo”
“Siapa ya…”
“Ini aku ….. Dilla”
“…………”
“Aku Cuma ingin tau. Kabar mu”
“Iya Dilla, aku baik”
“Don, aku rindu pada mu, boleh ?”
“Tentu Dilla, kami disini juga sangat merindukan mu”
Aku sangat senang karena respon yang diberikannya melebihi apa yang aku pikirkan soal kesalahan ku dimasa lalu.
“Sudah berasa lama kita tidak bertemu don?”
“Entah lah dil, intinya terlalu banyak hari kalau harus di hitung dengan kalkulator casio milih ayah ku.”
Berbicara soal kalkulator, dulu aku pernah mendapatkan kado berupa kalkulator dari Dony. Katanya ini untuk menghitung perasaan cintanya kepada ku. Dia gila. Tapi aku cinta. Dan kami sama-sama gila.
Terakhir aku dengar dia dimarahi ayahnya, karena kalkulator itu selalu dipakai ayahnya berdagang pakaian.
“Aku masih menyimpan kalkulator itu Don, tapi batrainya habis”
“Nanti aku belikan yang baru Dil…”
“Untuk apa Don,” aku sungguh ingin tau untuk apa kalkulator itu harus diisi batrai lagi.
“Untuk menghitung rindu ku”
“Don, aku ingin pingsan, apa boleh ?”
“Kenapa ?”
“Kalimat mu tadi, membuat ku ingin….. “ aku tidak melanjutkan akimat tadi.
“Dil, percayalah, kami disini merindukan mu.”
“Iya Don. Aku juga rindu kalian semua, terutama kamu yang bulu kakinya tidak rata.” Aku menahan tawa ku. Ini sudah malam. Aku takut dikira kesurupan lagi.
“Sudah hilang semuanya dil , “
“Hah?” Tanya ku penasaran.
“Bulu kaki ku. Sudah aku kerok semua”
Kami tertawa bersama. Terdengar samar-samar suara kaki melangkah kearah kamar ku. Seperti orang yag terburu-buru.
“Dil, kerusupan lagi ya “ suara ibu ku dari balik pintu. Tidak ku hiraukan. Biar saja.
“Don ?”
“Ya Dilla ?”
“Kamu sudah memaafkan ku ?”
“Menurut mu ?”
“Ku kura belum Don”
“Kamu salah, hidup tanpa dendam itu jauh lebih baik. Rindu ku lebih besar dari kesalahan mu.”
Itu adalah malam terbaik yang pernah aku miliki. Dimaafkan dari semua sekalahan ku, sebuah kesalahan yang membuatku merasa bersalah bertahun tahun.
Sudah ya, aku mau makan jeruk rasa mangga.
Bidadari mana yang suka jeruk apalagi yang rasanya mangga.
BalasHapusOke rasanya pengen ke toilet, kalo tau ada bidadari yang gampang masuk angin. 😂😂
Secara evolusi bidadari sudah berubah. Akibat polusi jadi gampang sakit.
Hapus