#footer-column-divide {clear:both;}.footer-column {padding: 10px;}

Senin, 24 April 2017

Hello, ini aku. Dila

Hello, ini aku. Dila.
Hai, aku dilla. Dilla Amelia putri nama lengkap ku. Lihatlah KTP ku jika belum percaya. Aku biasa di panggil “dil” oleh teman sekelas ku waktu SMA. Aku suka makan jeruk, tapi tadi aku baru makan mangga. Aku tidak terlalu suka makan manga, terutama mangga dengan rasa jeruk.
Aku sudah hidup didunia 17 tahun, dan aku belum pernah mati suri.
Aku pernah berfikir untuk merasakan namanya mati suri, tapi ibu ku melarangnya “nanti kalau mati beneran gimana dil” kata ibu dengan suara falsnya.
Yang aku maksud adalah bagaimana aku akan takut mati kalau aku belum tau rasanya.
Aku suka membaca buku novel, tapi aku sulit jatuh cinta.
Banyak yang suka pada ku “dil, ini sekolah khusus manusia, bukan bidadari kaya kamu” kata teman pria di kelas ku. Itu biasa bagi ku, bukan sombong, aku memang cantik keturunan dari ibu ku. Percayalah pada ku. Atau gigit hidung mu.
Aku tidak sombong, tidak juga gendut. Maksud ku entah kenapa aku selalu membandingkan semuanya dengan Dony, seorang mantan terbaik yang pernah memelukku selama 10 menit di bandara. Pelukan terakhir sebelum berpisah. Seorang mantan yang bisa membuatku terus rindu. Rindu yang terus ada, seperti udara yang bisa membuat mu masuk angin. Terutama aku yang memang gampang masuk angin. Sebentar, aku ingin ke toilet. 
Sekarang aku tinggal di jogja dengan keluarga kecil ku, tapi aku  juga meninggalkan sebagian keluarga kecil ku dikalimantan. Mereka adalah teman-teman sekolah ku yang selalu meyakinkan aku kalau aku ini memang manusia, bukan malaikat atau bidadari. Percayalah,itulah teman-teman ku.
Sudah satu tahun lamanya aku mengenal Dony, teman sekelas ku dikelas 2 SMA. Dia tidak ganteng, dan bulu kakinya tidak rata “dulu bagian ini pernah luka, sekarang bulunya gak mau tumbuh dil” kata dony sambil menunjuk bagian kakinya yang pernah luka. Aku tertawa sampai azan magrib.
Harusnya kami tak pernah bertemu sama sekali, atau aku lebih memilih suka dengan sesama jenis dari pada harus membuat rindu sebesar ini. Tapi kamu pasti tahu, aku tidak mampu membuat pilihan. Kecuali untuk memilih kaos kaki merah muda atau biru muda. Itu terlalu mudah.
Ini tahun kedua aku membendung rindu, aku ingin tau kabarnya. Suaranya, keluarganya, juga jumlah saldo di kartu timezone nya. Aku bingung, harus memulai dari mana. Apa aku harus menyamar jadi tukang kredit dari BUMN atau apa.
Ya tuhan, ini membuat ku ingin makan mie instan. Tunggu, aku memang lapar.
Kalian harus tau, aku sudah terlatih menahan rindu. Jadi percayalah aku tidak akan menangis saat menelpon nya nanti. Kecuali aku menelponnya sambil menonton acara rahasia ilahi. itu menjijikan bukan ?
“Telpon lah dil, sampaikan salam dari ibu untuk Dony” itu kata ibu tadi pagi. Dan barusan ibu ku bilang demikian lagi, bedanya, tadi ibu ku mengatakannya dengan mulut yang di penuhi kripik singkong buatannya. Aku tau rasanya tidak enak, untunglah aku tidak dipaksa mencobanya.
Maksud ku ibu ku memang tidak terlalu hebat memasak, tapi dia paling hebat membuat lagu. Dulu dia punya beberapa Band. Tapi tidak terkenal. Kasian.
“Menurut ibu, aku harus berpura-pura jadi tukang kredit lagi ?” aku bertanya dengan rasa gelisah.
“Oh ibu ada ide “ ibu berfikir agak lama sambil mengerutkan dahinya. “Jadi mba-mba asuransi aja dil.” 
Baiklah, jangan sampai aku mengganti ibu ku karena ide gila ini.
Tapi yang membuatku ragu adalah, apa dia sudah bisa memaafkan ku.
Apakah dia sudah melupakan kesalahan ku tentang beberapa hal dimasa lalu.
Apa dia sudah seperti seseorang saat pertama kali aku mengenalnya.
Yatuhan, perasaan ini membuat ku ingin ke toilet. Baiklah, aku masuk angin lagi.
Ada beberapa hal yang tidak ingin aku ceritakan disini, soal kami berdua, sebelum aku pindah ke jogja.
Selain meninggalkan dony, aku juga meninggalkan rasa bersalah ku.
“Mereka bilang, waktu adalah penyembuh yang baik. Semoga benar” kata Dony berbisik pada ku.
“Harus berapa juta kalimat maaf yang harus ku ucapkan untuk patah hati mu Don.” Aku melihat kedua matanya. Dia tidak melihat ku.
“Aku rasa tidak akan pernah cukup Dil.”

Aku sudah tau rasanya selingkuh, dan aku tidak ingin lagi. Kalimat tadi sudah cukup kurasa. Tidak akan ada lagi penjelasan tentang itu.
“Hallo”
“Hallo….”
Suaranya belum berubah.
Yatuhan , aku belum menyiapkan kalimat setelah “hallo.”
Aku matikan panggilan itu. Aku gunakan jari telunjuk sebelah kanan untuk memencet tombol merah yang ada di henpon ku.
Ada banyak kalimat di otak ku, tapi belum tersusun rapi. Aku butuh berbulan-bulan untuk bisa membuat kalimat yang baik.
“Hallo”
“Siapa ya…”
“Ini aku ….. Dilla”
“…………”
“Aku Cuma ingin tau. Kabar mu”
“Iya Dilla, aku baik”
“Don, aku rindu pada mu, boleh ?”
“Tentu Dilla, kami disini juga sangat merindukan mu”
Aku sangat senang karena respon yang diberikannya melebihi apa yang aku pikirkan soal kesalahan ku dimasa lalu.
“Sudah berasa lama kita tidak bertemu don?”
“Entah lah dil, intinya terlalu banyak hari kalau harus di hitung dengan kalkulator casio milih ayah ku.”
Berbicara soal kalkulator, dulu aku pernah mendapatkan kado berupa kalkulator dari Dony. Katanya ini untuk menghitung perasaan cintanya kepada ku. Dia gila. Tapi aku cinta. Dan kami sama-sama gila.
Terakhir aku dengar dia dimarahi ayahnya, karena kalkulator itu selalu dipakai ayahnya berdagang pakaian.
“Aku masih menyimpan kalkulator itu Don, tapi batrainya habis”
“Nanti aku belikan yang baru Dil…”
“Untuk apa Don,” aku sungguh ingin tau untuk apa kalkulator itu harus diisi batrai lagi.
“Untuk menghitung rindu ku”
“Don, aku ingin pingsan, apa boleh ?”
“Kenapa ?”
“Kalimat mu tadi, membuat ku ingin….. “ aku tidak melanjutkan akimat tadi.
“Dil, percayalah, kami disini merindukan mu.”
“Iya Don. Aku juga rindu kalian semua, terutama kamu yang bulu kakinya tidak rata.” Aku menahan tawa ku. Ini sudah malam. Aku takut dikira kesurupan lagi.
“Sudah hilang semuanya dil , “
“Hah?” Tanya ku penasaran.
“Bulu kaki ku. Sudah aku kerok semua”
Kami tertawa bersama. Terdengar samar-samar suara kaki melangkah kearah kamar ku. Seperti orang yag terburu-buru.
“Dil, kerusupan lagi ya “ suara ibu ku dari balik pintu. Tidak ku hiraukan. Biar saja.
“Don ?”
“Ya Dilla ?”
“Kamu sudah memaafkan ku ?”
“Menurut mu ?”
“Ku kura belum Don”
“Kamu salah, hidup tanpa dendam itu jauh lebih baik. Rindu ku lebih besar dari kesalahan mu.”
Itu adalah malam terbaik yang pernah aku miliki. Dimaafkan dari semua sekalahan ku, sebuah kesalahan yang membuatku merasa bersalah bertahun tahun.
Sudah ya, aku mau makan jeruk rasa mangga. 

Minggu, 02 April 2017

DIMANA HATIMU

“Kalau hati mu sudah untuk orang lain,,, aku bisa apa.”
Kalimat itu terus teringat di hati Josh, ada sedikit penyesalan yang mengikuti kalimat itu terucap. Semacam ungkapan frustasi dan menyerah untuk tetep mempertahankan hati seseorang  untuk tidak pergi.  
“Sayang, aku gak mau kita pisah” suara josh sendu.
“Aku pun begitu” jawab Lia dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkan Lia saat itu.  
“Kalau Cuma aku yang berjuang mana bisa” tambah Josh.
“Tapi aku nggak bisa, Josh”
“Bahkan kamu gak mau panggil aku sayang lagi” Josh semakin kesal.
Beberapa hari ini Josh terus berusaha meyakinkan lia untuk tidak pergi ke hati yang lain. Tiap mereka bertemu selalu bertengkar, padahal niatnya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Apa yang sudah mereka lewati terlalu berat untuk dijadikan kenangan dan masalalu. Lia semakin hari semakin gelisah dengan perasaannya. Disatu sisi perasaannya telah berubah kepada Josh. Disatu sisi harus ada hati yang terluka dibalik hati yang berpindah.
“Josh,, kalau aku pergi. Kamu mau kan maafin aku?” pesan singkat muncul dilayar hp Josh.
Josh membuka hp nya, milihat sekilas pesan singkat itu. Josh kembali tertidur dan menarik gulingnya untuk dijadikan bantal. Apapun yang dikatakan Johs sudah tidak bisa merubah apa apa. Hati Lia terlalu keras untuk ditaklukan, bahkan oleh Josh yang yang sudah menjadi pacar Lia selama 2 tahun.

Masalah seperti ini juga pernah terjadi kurang lebih satu tahun yang lalu. Saat itu Lia bertemu mantan kekasihnya saat SMA. Namanya Sammy. Lia mengira dia sudah move on sepenuhnya dari mantannya itu, tapi karena mereka sudah pernah dekat maka mulailah mereka sering bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan Josh. Ditambah tempat kerja yang berdekatan membuat mereka sering bertemu diwarung makan langganan. Lia berharap Josh tidak pernah tau soal ini.
Josh juga tau banyak soal Sammy. Tentu ini akan menjadi masalah besar jika Josh tau.
Lia tidak bermaksud untuk membohongi atau berniat balikan dengan Sammy. Tapi ada sesuatu hal yang ada pada Sammy dan tidak ada pada Josh. Ada perasaan nyaman yang berbeda yang didapatkan saat bersama Sammy.
“Lia sayang, nanti siang aku kirim makan siang ke kantor kamu” suara serak Josh dari balik hendphone.
“Gak usah Josh, nanti aku mau makan bareng teman-teman sekantor kok” jawab Lia sedikit gagap. Lia berharap suara gagapnya tidak membuat Josh menyadari kebohongannya.
“Tumben, ada acara apa. Temen kamu ulang tahun ya ?” Lia semakin bingung harus menjawab apa.
“Siapa teman kamu yang ulang tahun?” tambah josh.
“Nanti ya aku telpon lagi, ini ada kerjaan mendadak” jawab Lia diikuti suara tut tut tut.
Sammy dan Lia memang sudah membuat janji untuk makan siang bersama diwarung makan langganan tempat mereka sering bertemu.
“Lia, aku tunggu kamu ditempat biasa ya”
“iya sam, ini sudah mau jalan kok”
Rumah makan itu berjarak 100 meter dari tempat Lia bekerja. Kadang Lia hanya jalan kaki untuk sampai ditempat itu. Tapi hari ini Lia memutuskan untuk naik motor agar bisa lebih cepat sampai dan punya banyak waktu bertemu dengan Sammy.
“Lia,!” teriak Sammy sambil mengangkat tangannya.
Lia langsung bergegas menuju tempat Sammy duduk. Tempatnya agak jauh dari pintu masuk. Dekat jendela. Cuma ada dua kursi disitu. Mejanya terbuat dari kayu jadi, terlihat kokoh walaupun sudah lama. Udaranya terasa sejuk karena sirkulasi udara yang lancar di tambah jendela yang mengarah langsung ke persawahan. Sammy sengaja memilih tempat ini karena dari jendela mereka bisa melihat pemandangan sawah yang hijau.
“Hai sam, kok cepet banget datang?” Tanya lia.
“Gak papa, takut kamu yang nunggu” Lia duduk didepan Sammy.
Baru beberapa menit mereka bertemu terdengar suara yang tidak asing bagi Lia.
“Lia, kamu kok disini?” josh berdiri tegap dihadapan mereka berdua.
Lia dan Sammy bingung harus menjawab apa. Lia terlihat gugup dan ketakutan.
“Teman-teman kamu mana, katanya mau makan rame-rame?” Tanya josh dengan wajah penasaran.
“Aku,,, eeee. Aku”
“Yaudah aku mau balik dulu, sudah ditunggu teman diparkiran.” Josh berbalik badan menjauh dari pandangan lia.
Josh sangat tau apa yang barusan terjadi, lia membohongi josh untuk bertemu dengan Sammy. Sammy berusaha tetap tenang untuk menjaga perasaan Sammy dan lia. Josh tidak sebodoh itu untuk membuat keributan di warung makan itu.
Sejak saat itu Lia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Josh pun memaafkan Lia.
Kejadian yang hampir sama terjadi lagi. Lia tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya. Namanya rocy. Asli orang jogja yang kini berkerja dijakarta dekat kantor Lia. Bahkan perusahaan termpat mereka bekerja beberapa kali pernah menjalin kerja sama. Tapi Lia baru menyadari saat berpapasan di halte busway dengan Rocy.
Rocy adalah sosok pria idaman yang selalu didambakan Lia sejak dulu. Rocy aktif di basket dan band. Banyak wanita yang mengidolakan sosok Rocy. Waktu itu Lia tidak bisa berbuat apa apa karena terlalu banyak saingan.
“Eh Lia,, cantik ya kamu sekarang” pertemun singkat di halte bus membuat mereka lebih dekat lagi. Karena lama tidak bertemu Rocy merasa Lia jauh lebih cantik dari 5 tahun yang lalu. Semakin sering mereka bertemu semakin tumbuh perasaan mereka berdua.
Banyak kata-kata manis dari Rocy yang membuat lia semakin mengagumi sosok Rocy. Perasaan suka Lia ke Rocy membuat Josh lama-lama tersadar. Hingga suatu hari mereka bertengkar.
“Kamu kenapa sih?” Josh meletakan kedua kedua tangannya di pinggang.
Lia masih diam. Tertunduk lesu. Lia tau kalau dia salah.
“Kamu jawab dong !”
“Aku ketemu orang lain. Aku suka sama dia” Lia mulai meneteskan air matanya.
“Aku gak bisa mengarahkan kemana hati aku pergi, Josh.”
“Kita gak bisa baikin hubungan ini lagi ?” Tanya Josh. Perlahan Josh menghapus air mata Lia.
Lia diam dan Cuma bisa menangis. Josh memeluk tubuh kecil Lia sekuat tenaga. Seolah ini pelukan terakhir. Tanda perpisahan. Karena mereka sama-sama tau hubungan ini sudah terlanjur rusak dan tidak bisa diperbaiki.
“Percuma aku punya raga mu, tapi hati kamu sudah dengan orang lain.”
Lia mengangkat kepalanya. Menatap tajam kearah Josh.
“Aku rela kamu dengan dia, asalkan kamu janji untuk hidup bahagia selalu.” 
   

Pages

Total Tayangan Halaman

Kontak Saya

Kontak Saya
Scan Disini Untuk Mendapatkan Kontak Saya

Translate

Pengikut

Popular Posts