#footer-column-divide {clear:both;}.footer-column {padding: 10px;}

Selasa, 06 September 2016

Filosofi Pohon Tua


Suatu hari hiduplah pohon tua yang hidup sendirian. Dahulu kala ia memiliki banyak teman  yang selalu membuatnya tertawa dan selalu bahagia sampai akhirnya mereka hilang satu       persatu tanpa menyisakan apapun kecuali akar, akar yang melekat erat kedalam tanah.
Kini pohon tua itu tak lebih seperti selembar daun yang jatuh kelembah jurang yang gelap dan sunyi.
Pohon tua tersebut tidak pernah tahu kemana teman-temannya pergi. Pohon tua tersebut mulai merasa jenuh. Setiap hari ia hanya melihat akar akar tua yang sudah meninggalkannya, berharap akan ada pohon baru yang tumbuh dari akar-akar tua itu.
Pohon tua itu tidak tahan lagi hidup kesepian, hingga suatu hari pohon tua berharap ada manusia yang menebangnya sehingga ia bisa bertemu kembali  dengan teman-temannya.
Sampai suatu hari ada manusia yang berjalan-jalan disekitar pohon tua tersebut, pohon tua pun segera menyari maksud dan tujuan dari manusia itu, sudah pasti sebilah parang yang dibawa manusia tersebut untuk memotong suatu. Pohon tua pun sudah siap untuk ditebang, dan dijadikan kayu bakar atau apapun itu. Tidak lama kemudian manusia tersebut memilih pohon tua itu karena hanya tersisa pohon tua itu yang masih berdiri tegak.
“Lebih baik aku mati, tapi bermanfaat untuk manusia, dari pada aku hidup sebatang kara berselimut kesunyian”, kata pohon tua dengan segala rasa frustasi yang dirasakannya.
Setelah di potong dan hanya menyisakan akar, manusia mulai membawa potongan pohon tua itu kerumahnya yang sederhana. Disana pohon tua melihat banyak potongan kayu lain yang sudah lama di tebang
. “Astaga,, disini ternyata mereka selama ini”, pohon tua itu tersenyum riang melihat teman-temannya yang sudah lama tak jumpa.
Manusia terus membawanya ketempat yang sangat gelap, ruangan tersebut terasa panas, kotor, berdebu dan berisik. Di letakannya pohon tua tersebut diatas meja yang penuh debu, terasa begitu kasar permukaan dari meja itu.
“ya Tuhan, tempat apa ini, apa yang akan dilakukannya padaku ya Tuhan?” pohon tua mulai khawatir dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
DERRR!!!,, lampu menyala tepat diatas pohon tua itu, lampu itu sangat menyilaukan-nya hingga pohon tua itu tidak bisa melihat apapun kecuali cahaya dari bola lampu.
Tiba-tiba datanglah seorang kakek dari balik cahaya lampu. Diputar putarnya pohon tua itu, pohon tua mulai merasa pusing dan mual.
“baiklah,, saatnya kita mulai”,  kakek itu berbisik lembut dan mulai menjauh dari pandangan pohon tua itu.
Pohon tua masih belum mengerti apa maksud dari perkataan kakek itu. Pohon tua itu  berusaha tetap tenang walaupun dalam hatinya dipenuhi segudang pertanyaan. Tapi pohon tua itu yakin pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab satu persatu, namun butuh waktu, waktu yang tidak pernah bisa ditebak.
Lamunan pohon tua tiba-tiba buyar ketika mendengat suara mesin gergaji dari kejauhan.
“Astaga ,, suara apa itu, apa yang akan terjadi pada ku?”, pohon tua tidak bisa berbohong dengan kekhawatirannya.
Kakek tua itu kembali menghampiri pohon tua itu dengan membawa sebuah pensil, lalu digoreskannya pensil itu diberbagai  permukaan pohon tua itu.
“Wahai kakek tua,, hentikan, aku sudah tidak tahan lagi”, pohon tua merasa geli dengan pensil yang digoreskannya keberbagai permukaan pohon tua itu.
“Tahanlah,, ini takkan lama”, kakek itu meyakinkan pohon tua.
Tak lama kemudian diambilnya mesin gergaji yang dari tadi sudah menyala dari balik cahaya lampu. Suara mesin gergaji itu semakin mendekat, suaranya menyeruak keseluruh pelosok ruangan.
Dipotonglah pohon tua itu mengikuti garis pensil yang sudah digambar oleh kakek tua itu, pohon tua pun meronta kesakitan. Berulang kali pohon tua itu memohon kepada kakek tua itu. Namum tak dihiraukannya. Pohon tua sudah tidak bisa teriak kesakitan lagi, suaranya sudah sayup menahan perih.
“Kamu akan terlihat cantik,, tunggulah waktunya”,seru kakek itu sambil tersenyum tipis.
“Masa bodoh dengan apa yang dikatakan kakek tua itu, membuatku cantik?. Aku hampir tidak bisa merasakan bagian tubuhku lagi”. Pohon tua itu nampak kesal dengan perlakuan kakek tua yang sangat kasar.
Kakek itu datang lagi, kali ini membawa aplas yang sangat kasar.
Pohon tua pun cukup menderita dengan amplas tersebut, tentunya sangat kasar dan menyakitkan. Selanjutnya kakek itu membawanya ke bak penampungan air untuk mencucinya. Dicelupkannya pohon tua itu kedalam bak  penampungan air. Lagi lagi pohon tua harus melewatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Setelah mencuci bersih seluruh permukaan pohon tua itu, kakek tua itu menjemur dibawah terik mentari yang sangat panas. Pohon tua pun harus merasakan panasnya terik mentari disiang bolong.
Setelah dirasa cukup kering, kakek itu membawa pohon tua itu ke sebuah ruangan yang baunya sangat menyengat, benar,, pohon tua itu akan diberi warna. Aroma cat yang menyengat membuat pohon tua tersadar bahwa ia akan di warnai, pohon tua makin penasaran.
“Apa sebenarnya yang dilakukan kekek ini pada ku, kenapa aku harus di gergaji, di apmlas dan diberi warna?”.
Pohon tua makin tidak sabar untuk meliat seperti apa ia sekarang. Makin bagus kah, atau makin jelek kah?.
-----
Suatu hari pohon tua mendengar suara anak perempuan dari balik pintu, pohon tua diletakkan di dalam sebuah lemari kaca di ruangan yang sangat gelap. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat.
Kreeeeek!!,,
Suara pintu terbuka disusul cahaya dari luar yang terasa sangat menyilaukan bagi pohon tua yang sudah terlalu lama di dalam kegelapan. Wajar kalau cahaya itu terlalu silau.
“Ayah,, aku ingin biola ini, aku ingin memilikinya”, suara anak itu terdengar jelas dari balik lemari kaca.
Pohon tua pun semakin bingung karena anak perempuan itu terus menunjuk dirinya.
“Baiklah nak,, sebentar lagi kamu akan memilikinya”, balas ayahnya yang tak tega melihat anaknya sangat menginginkan biola itu. Ayahnya segera mengabulkan permintaan anak itu. Anak simata wayang, anak yang sejak awal tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Malang nasibnya.
Pohon tua itu segera dimasukkan kedalam kardus. Lagi-lagi ia harus merasakan gelap gulita. Tak beberapa lama kemudian kardus tersebut dibuka secara perlahan, anak perempuan itu terlihat sangat riang melihat pohon tua itu.
“Ayah, aku ingin segera memainkan biola ini”, seru anak itu sambil memegang pohon tua yang kini sudah menjadi biola yang sangat cantik.
Pohon tua segera menyadari apa yang telah terjadi padanya, dari pohon tua yang tidak berguna menjadi biola yang sangat cantik, sungguh tidak pernah terfikirkan sebelumnya.
Lima tahun telah berlalu, anak perempuan itu sudah menjadi pemain biola yang hebat dan banyak mendapatkan penghargaan. Pohon tua turut bahagia dengan pencapaian yang diperoleh anak perempuan itu. Pohon tua pun teringat apa yang sudah dilakukan kakek itu kepadanya, cukup sakit tapi bahagia pada akhirnya. Sebuah proses yang harus dilewati tiap orang, sebuah proses panjang dan sakit agar menjadi manusia yang lebih baik kedepannya.   
Banyak orang yang enggan untuk melewati proses tersebut, tidak banyak orang yang mau berjuang melewati kesakitan itu. Padahal, proses pembelajaran tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mejadikan setiap orang menjadi lebih baik.
             

Pages

Total Tayangan Halaman

Kontak Saya

Kontak Saya
Scan Disini Untuk Mendapatkan Kontak Saya

Translate

Pengikut

Popular Posts