Pagi ini bukan seperti pagi lainnya.
Walaupun matahari masih terbit, tapi aku
Masih belum bisa merasakan kehangatan nya.
Ku angkat kepada ku, ku sandarkan tubuh ini ke dinding kamar.
Ku buka kain yang membatasi sinar matahari masuk ke kamar ku.
"hai, Karla " teks itu terkirim setelah beberapa detik aku ketik.
" kenapa kenapa jov" balas Karla.
" hari ini, bisa bertemu? "
" tentu, tempat biasa ya"
Aku tersenyum, akhirnya ada yg bisa mendengar kan curhat ku.
Dia Karla, cantik nyaris sempurna. Aku selalu kagum padanya.
Tidak, aku akan selalu berteman dengannya. Selalu. Doakan saja.
Aku perintah kan otak ini untuk mengirim perintah ke seluruh tubuh untuk mandi.
Aku selalu berharap mandi bisa menaikkan ke tampanan ku, walaupun hasilnya selalu mengecewakan. Hehe aku selalu bodoh.
Sesampainya di tempat tujuan, karla sudah duduk manis dengan kopi di genggamannya.
"hai karla, sori telat, tadi bingung mau pake muka yg mana hehe" aku ambil kursi, lalu duduk. Apa kamu pikir aku akan melempar kursi ini ke wajah karla ? Lain kali akan ku lakukan. Hehe
"stok muka kamu pasti jelek semua ya jov? " karla tertawa sembari menutup gingsul nya.
" kok gitu sih kar? " tanya ku penasaran bercampur kesal.
" kalo kamu punya stok muka yg ganteng pasti kamu gak pake yg ini" karla menunjuk wajah ku. Lubang hidung sebelah kiri tepatnya.
"iya karla, lakukan apa yg kamu suka"
" tuh kan Jovi marah, aku traktir deh hari ini " karla mencabut bulu hidung ku, 17 helai.
Setelah itu kamu berdua diam, hampir 25 detik. Aku menundukkan pada pandangan.
" karla, aku mau curhat bisa kan? " tanya ku sedikit ragu.
Karla mengangguk, sepertinya dia memang tau maksud ku ingin bertemu hari ini.
" putus ya kamu jov,? " pertanyaan karla mengejutkan aku sampai bulu hidung ku rontok lagi.
" kok? "
" tau lah, apa sih yang gak aku tau dari kamu jov" karla merapikan rambut ku. Karla selalu memperlakukan aku seperti adik nya sendiri, padahal aku mengaguminya lebih dari seorang kakak perempuan.
"kar, memang nya kalau aku mengerebut pacar orang, apa pacar aku pasti di rebut orang lain juga ya? "
" ohhhhh gitu, jadi cewek yang kemarin kamu ambil dari siapa jov? "
" bukan ngambil kar, aku cuma jadi versi yg lebih baik dari pacarnya waktu itu, tapi teman teman nya bilang aku ngerebut dia dari pacarnya. "
" mungkin mereka cuma tau dari sisi luar nya aja jov, aku percaya kalo kamu niat nya baik jov"
" makasih ya kar "
" trus? "
" trus apa kar? " tanya ku sedikit bingung.
" sekarang mau ngapain, mau dekatin pacar orang lain lagi? " karla tersenyum tipis.
Sampai disini aku sadar, aku memang tidak merebut dia dari pacarnya, tapi aku cuma salah karena datang di waktu yang tidak tepat. Harusnya aku datang di saat dia sudah sendiri.
" kalau dia memilih kamu, bukan berarti kamu lebih baik, tapi dia aja yg gampang berpindah hati jov. "
Perkataan karla memukul hati ku dengan kuat. Aku baru sadar apa yang aku lakukan dulu itu salah.
Dengan bangga nya dulu pernah bilang" aku lebih baik dari pacarnya, buktinya dia memilih ku. "
" kar, makasih ya, aku sekarang sudah sadar "
Karla menempel kan jempol nya dia depan hidungku. Dari jauh lebih mirip orang yang membantu temannya mengupil dengan bantuan jempol.
" trus? "
" trus apa kar? "
" masih mau kaya kemaren lagi? "
" kemaren gimana kar? "
" dekatin cewek orang lain lagi bego!! "
" ohhhhh enggak kar, sudah kapok "
" trus? ""
"trus apa kar? "
" trus kamu mau ngapain bego! "
" aku mau dekatin yang jomblo aja kar "
" siapa? "
" belum tau sih hehe"
" bego"
" kamu dapat rekor nih kar "
" apa? "
" ngatain aku bego 3 kali dalam 15 detik"
" maaf jov, hilaf " karla mengusap rambut ku, sesekali dia mencabut rambut ku sampai botak.
Kami diam sejenak, mungkin hampir 1 menit. Percaya pada ku, aku menghitung nya.
" jov aku jomblo loh" tiba tiba karla memecah kesunyian.
Jujur aku bingung, tapi matanya berbisik sesuatu, mata seolah berbicara "ayo pacarin aku."
Aku tersenyum, aku tau maksudnya.
"karla, "
" apa "
" mau jadi pelabuhan untuk hati aku gak?"
Karla tersenyum, aku pun tersenyum, tukang parkir kesurupan.