#footer-column-divide {clear:both;}.footer-column {padding: 10px;}

Senin, 24 April 2017

Hello, ini aku. Dila

Hello, ini aku. Dila.
Hai, aku dilla. Dilla Amelia putri nama lengkap ku. Lihatlah KTP ku jika belum percaya. Aku biasa di panggil “dil” oleh teman sekelas ku waktu SMA. Aku suka makan jeruk, tapi tadi aku baru makan mangga. Aku tidak terlalu suka makan manga, terutama mangga dengan rasa jeruk.
Aku sudah hidup didunia 17 tahun, dan aku belum pernah mati suri.
Aku pernah berfikir untuk merasakan namanya mati suri, tapi ibu ku melarangnya “nanti kalau mati beneran gimana dil” kata ibu dengan suara falsnya.
Yang aku maksud adalah bagaimana aku akan takut mati kalau aku belum tau rasanya.
Aku suka membaca buku novel, tapi aku sulit jatuh cinta.
Banyak yang suka pada ku “dil, ini sekolah khusus manusia, bukan bidadari kaya kamu” kata teman pria di kelas ku. Itu biasa bagi ku, bukan sombong, aku memang cantik keturunan dari ibu ku. Percayalah pada ku. Atau gigit hidung mu.
Aku tidak sombong, tidak juga gendut. Maksud ku entah kenapa aku selalu membandingkan semuanya dengan Dony, seorang mantan terbaik yang pernah memelukku selama 10 menit di bandara. Pelukan terakhir sebelum berpisah. Seorang mantan yang bisa membuatku terus rindu. Rindu yang terus ada, seperti udara yang bisa membuat mu masuk angin. Terutama aku yang memang gampang masuk angin. Sebentar, aku ingin ke toilet. 
Sekarang aku tinggal di jogja dengan keluarga kecil ku, tapi aku  juga meninggalkan sebagian keluarga kecil ku dikalimantan. Mereka adalah teman-teman sekolah ku yang selalu meyakinkan aku kalau aku ini memang manusia, bukan malaikat atau bidadari. Percayalah,itulah teman-teman ku.
Sudah satu tahun lamanya aku mengenal Dony, teman sekelas ku dikelas 2 SMA. Dia tidak ganteng, dan bulu kakinya tidak rata “dulu bagian ini pernah luka, sekarang bulunya gak mau tumbuh dil” kata dony sambil menunjuk bagian kakinya yang pernah luka. Aku tertawa sampai azan magrib.
Harusnya kami tak pernah bertemu sama sekali, atau aku lebih memilih suka dengan sesama jenis dari pada harus membuat rindu sebesar ini. Tapi kamu pasti tahu, aku tidak mampu membuat pilihan. Kecuali untuk memilih kaos kaki merah muda atau biru muda. Itu terlalu mudah.
Ini tahun kedua aku membendung rindu, aku ingin tau kabarnya. Suaranya, keluarganya, juga jumlah saldo di kartu timezone nya. Aku bingung, harus memulai dari mana. Apa aku harus menyamar jadi tukang kredit dari BUMN atau apa.
Ya tuhan, ini membuat ku ingin makan mie instan. Tunggu, aku memang lapar.
Kalian harus tau, aku sudah terlatih menahan rindu. Jadi percayalah aku tidak akan menangis saat menelpon nya nanti. Kecuali aku menelponnya sambil menonton acara rahasia ilahi. itu menjijikan bukan ?
“Telpon lah dil, sampaikan salam dari ibu untuk Dony” itu kata ibu tadi pagi. Dan barusan ibu ku bilang demikian lagi, bedanya, tadi ibu ku mengatakannya dengan mulut yang di penuhi kripik singkong buatannya. Aku tau rasanya tidak enak, untunglah aku tidak dipaksa mencobanya.
Maksud ku ibu ku memang tidak terlalu hebat memasak, tapi dia paling hebat membuat lagu. Dulu dia punya beberapa Band. Tapi tidak terkenal. Kasian.
“Menurut ibu, aku harus berpura-pura jadi tukang kredit lagi ?” aku bertanya dengan rasa gelisah.
“Oh ibu ada ide “ ibu berfikir agak lama sambil mengerutkan dahinya. “Jadi mba-mba asuransi aja dil.” 
Baiklah, jangan sampai aku mengganti ibu ku karena ide gila ini.
Tapi yang membuatku ragu adalah, apa dia sudah bisa memaafkan ku.
Apakah dia sudah melupakan kesalahan ku tentang beberapa hal dimasa lalu.
Apa dia sudah seperti seseorang saat pertama kali aku mengenalnya.
Yatuhan, perasaan ini membuat ku ingin ke toilet. Baiklah, aku masuk angin lagi.
Ada beberapa hal yang tidak ingin aku ceritakan disini, soal kami berdua, sebelum aku pindah ke jogja.
Selain meninggalkan dony, aku juga meninggalkan rasa bersalah ku.
“Mereka bilang, waktu adalah penyembuh yang baik. Semoga benar” kata Dony berbisik pada ku.
“Harus berapa juta kalimat maaf yang harus ku ucapkan untuk patah hati mu Don.” Aku melihat kedua matanya. Dia tidak melihat ku.
“Aku rasa tidak akan pernah cukup Dil.”

Aku sudah tau rasanya selingkuh, dan aku tidak ingin lagi. Kalimat tadi sudah cukup kurasa. Tidak akan ada lagi penjelasan tentang itu.
“Hallo”
“Hallo….”
Suaranya belum berubah.
Yatuhan , aku belum menyiapkan kalimat setelah “hallo.”
Aku matikan panggilan itu. Aku gunakan jari telunjuk sebelah kanan untuk memencet tombol merah yang ada di henpon ku.
Ada banyak kalimat di otak ku, tapi belum tersusun rapi. Aku butuh berbulan-bulan untuk bisa membuat kalimat yang baik.
“Hallo”
“Siapa ya…”
“Ini aku ….. Dilla”
“…………”
“Aku Cuma ingin tau. Kabar mu”
“Iya Dilla, aku baik”
“Don, aku rindu pada mu, boleh ?”
“Tentu Dilla, kami disini juga sangat merindukan mu”
Aku sangat senang karena respon yang diberikannya melebihi apa yang aku pikirkan soal kesalahan ku dimasa lalu.
“Sudah berasa lama kita tidak bertemu don?”
“Entah lah dil, intinya terlalu banyak hari kalau harus di hitung dengan kalkulator casio milih ayah ku.”
Berbicara soal kalkulator, dulu aku pernah mendapatkan kado berupa kalkulator dari Dony. Katanya ini untuk menghitung perasaan cintanya kepada ku. Dia gila. Tapi aku cinta. Dan kami sama-sama gila.
Terakhir aku dengar dia dimarahi ayahnya, karena kalkulator itu selalu dipakai ayahnya berdagang pakaian.
“Aku masih menyimpan kalkulator itu Don, tapi batrainya habis”
“Nanti aku belikan yang baru Dil…”
“Untuk apa Don,” aku sungguh ingin tau untuk apa kalkulator itu harus diisi batrai lagi.
“Untuk menghitung rindu ku”
“Don, aku ingin pingsan, apa boleh ?”
“Kenapa ?”
“Kalimat mu tadi, membuat ku ingin….. “ aku tidak melanjutkan akimat tadi.
“Dil, percayalah, kami disini merindukan mu.”
“Iya Don. Aku juga rindu kalian semua, terutama kamu yang bulu kakinya tidak rata.” Aku menahan tawa ku. Ini sudah malam. Aku takut dikira kesurupan lagi.
“Sudah hilang semuanya dil , “
“Hah?” Tanya ku penasaran.
“Bulu kaki ku. Sudah aku kerok semua”
Kami tertawa bersama. Terdengar samar-samar suara kaki melangkah kearah kamar ku. Seperti orang yag terburu-buru.
“Dil, kerusupan lagi ya “ suara ibu ku dari balik pintu. Tidak ku hiraukan. Biar saja.
“Don ?”
“Ya Dilla ?”
“Kamu sudah memaafkan ku ?”
“Menurut mu ?”
“Ku kura belum Don”
“Kamu salah, hidup tanpa dendam itu jauh lebih baik. Rindu ku lebih besar dari kesalahan mu.”
Itu adalah malam terbaik yang pernah aku miliki. Dimaafkan dari semua sekalahan ku, sebuah kesalahan yang membuatku merasa bersalah bertahun tahun.
Sudah ya, aku mau makan jeruk rasa mangga. 

Minggu, 02 April 2017

DIMANA HATIMU

“Kalau hati mu sudah untuk orang lain,,, aku bisa apa.”
Kalimat itu terus teringat di hati Josh, ada sedikit penyesalan yang mengikuti kalimat itu terucap. Semacam ungkapan frustasi dan menyerah untuk tetep mempertahankan hati seseorang  untuk tidak pergi.  
“Sayang, aku gak mau kita pisah” suara josh sendu.
“Aku pun begitu” jawab Lia dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkan Lia saat itu.  
“Kalau Cuma aku yang berjuang mana bisa” tambah Josh.
“Tapi aku nggak bisa, Josh”
“Bahkan kamu gak mau panggil aku sayang lagi” Josh semakin kesal.
Beberapa hari ini Josh terus berusaha meyakinkan lia untuk tidak pergi ke hati yang lain. Tiap mereka bertemu selalu bertengkar, padahal niatnya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Apa yang sudah mereka lewati terlalu berat untuk dijadikan kenangan dan masalalu. Lia semakin hari semakin gelisah dengan perasaannya. Disatu sisi perasaannya telah berubah kepada Josh. Disatu sisi harus ada hati yang terluka dibalik hati yang berpindah.
“Josh,, kalau aku pergi. Kamu mau kan maafin aku?” pesan singkat muncul dilayar hp Josh.
Josh membuka hp nya, milihat sekilas pesan singkat itu. Josh kembali tertidur dan menarik gulingnya untuk dijadikan bantal. Apapun yang dikatakan Johs sudah tidak bisa merubah apa apa. Hati Lia terlalu keras untuk ditaklukan, bahkan oleh Josh yang yang sudah menjadi pacar Lia selama 2 tahun.

Masalah seperti ini juga pernah terjadi kurang lebih satu tahun yang lalu. Saat itu Lia bertemu mantan kekasihnya saat SMA. Namanya Sammy. Lia mengira dia sudah move on sepenuhnya dari mantannya itu, tapi karena mereka sudah pernah dekat maka mulailah mereka sering bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan Josh. Ditambah tempat kerja yang berdekatan membuat mereka sering bertemu diwarung makan langganan. Lia berharap Josh tidak pernah tau soal ini.
Josh juga tau banyak soal Sammy. Tentu ini akan menjadi masalah besar jika Josh tau.
Lia tidak bermaksud untuk membohongi atau berniat balikan dengan Sammy. Tapi ada sesuatu hal yang ada pada Sammy dan tidak ada pada Josh. Ada perasaan nyaman yang berbeda yang didapatkan saat bersama Sammy.
“Lia sayang, nanti siang aku kirim makan siang ke kantor kamu” suara serak Josh dari balik hendphone.
“Gak usah Josh, nanti aku mau makan bareng teman-teman sekantor kok” jawab Lia sedikit gagap. Lia berharap suara gagapnya tidak membuat Josh menyadari kebohongannya.
“Tumben, ada acara apa. Temen kamu ulang tahun ya ?” Lia semakin bingung harus menjawab apa.
“Siapa teman kamu yang ulang tahun?” tambah josh.
“Nanti ya aku telpon lagi, ini ada kerjaan mendadak” jawab Lia diikuti suara tut tut tut.
Sammy dan Lia memang sudah membuat janji untuk makan siang bersama diwarung makan langganan tempat mereka sering bertemu.
“Lia, aku tunggu kamu ditempat biasa ya”
“iya sam, ini sudah mau jalan kok”
Rumah makan itu berjarak 100 meter dari tempat Lia bekerja. Kadang Lia hanya jalan kaki untuk sampai ditempat itu. Tapi hari ini Lia memutuskan untuk naik motor agar bisa lebih cepat sampai dan punya banyak waktu bertemu dengan Sammy.
“Lia,!” teriak Sammy sambil mengangkat tangannya.
Lia langsung bergegas menuju tempat Sammy duduk. Tempatnya agak jauh dari pintu masuk. Dekat jendela. Cuma ada dua kursi disitu. Mejanya terbuat dari kayu jadi, terlihat kokoh walaupun sudah lama. Udaranya terasa sejuk karena sirkulasi udara yang lancar di tambah jendela yang mengarah langsung ke persawahan. Sammy sengaja memilih tempat ini karena dari jendela mereka bisa melihat pemandangan sawah yang hijau.
“Hai sam, kok cepet banget datang?” Tanya lia.
“Gak papa, takut kamu yang nunggu” Lia duduk didepan Sammy.
Baru beberapa menit mereka bertemu terdengar suara yang tidak asing bagi Lia.
“Lia, kamu kok disini?” josh berdiri tegap dihadapan mereka berdua.
Lia dan Sammy bingung harus menjawab apa. Lia terlihat gugup dan ketakutan.
“Teman-teman kamu mana, katanya mau makan rame-rame?” Tanya josh dengan wajah penasaran.
“Aku,,, eeee. Aku”
“Yaudah aku mau balik dulu, sudah ditunggu teman diparkiran.” Josh berbalik badan menjauh dari pandangan lia.
Josh sangat tau apa yang barusan terjadi, lia membohongi josh untuk bertemu dengan Sammy. Sammy berusaha tetap tenang untuk menjaga perasaan Sammy dan lia. Josh tidak sebodoh itu untuk membuat keributan di warung makan itu.
Sejak saat itu Lia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Josh pun memaafkan Lia.
Kejadian yang hampir sama terjadi lagi. Lia tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya. Namanya rocy. Asli orang jogja yang kini berkerja dijakarta dekat kantor Lia. Bahkan perusahaan termpat mereka bekerja beberapa kali pernah menjalin kerja sama. Tapi Lia baru menyadari saat berpapasan di halte busway dengan Rocy.
Rocy adalah sosok pria idaman yang selalu didambakan Lia sejak dulu. Rocy aktif di basket dan band. Banyak wanita yang mengidolakan sosok Rocy. Waktu itu Lia tidak bisa berbuat apa apa karena terlalu banyak saingan.
“Eh Lia,, cantik ya kamu sekarang” pertemun singkat di halte bus membuat mereka lebih dekat lagi. Karena lama tidak bertemu Rocy merasa Lia jauh lebih cantik dari 5 tahun yang lalu. Semakin sering mereka bertemu semakin tumbuh perasaan mereka berdua.
Banyak kata-kata manis dari Rocy yang membuat lia semakin mengagumi sosok Rocy. Perasaan suka Lia ke Rocy membuat Josh lama-lama tersadar. Hingga suatu hari mereka bertengkar.
“Kamu kenapa sih?” Josh meletakan kedua kedua tangannya di pinggang.
Lia masih diam. Tertunduk lesu. Lia tau kalau dia salah.
“Kamu jawab dong !”
“Aku ketemu orang lain. Aku suka sama dia” Lia mulai meneteskan air matanya.
“Aku gak bisa mengarahkan kemana hati aku pergi, Josh.”
“Kita gak bisa baikin hubungan ini lagi ?” Tanya Josh. Perlahan Josh menghapus air mata Lia.
Lia diam dan Cuma bisa menangis. Josh memeluk tubuh kecil Lia sekuat tenaga. Seolah ini pelukan terakhir. Tanda perpisahan. Karena mereka sama-sama tau hubungan ini sudah terlanjur rusak dan tidak bisa diperbaiki.
“Percuma aku punya raga mu, tapi hati kamu sudah dengan orang lain.”
Lia mengangkat kepalanya. Menatap tajam kearah Josh.
“Aku rela kamu dengan dia, asalkan kamu janji untuk hidup bahagia selalu.” 
   

Minggu, 19 Februari 2017

PENANTIAN WILLY

Cuma tuhan dan gebetan yang tau sampai kapan kita selalu menunggu.
Walaupun sudah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menunggu seorang gebetan agar menerima cinta kita, tapi kalau gebetan bilang “cinta itu butuh proses” kita mungkin butuh umur kurang lebih 120 tahun sampai gebetan menerima cinta kita. 
Mungkin kalau gebetan kalian memberikan respon negatif kalian sudah tau hasilnya, tapi bagaimana kalau respon yang dia berikan adalah positif ?, tapi setelah ditunggu beberapa lama dia malah gak yakin dengan kita dan jadian dengan orang lain.
Secara umum, dalam psikologi seorang cowok dalam kasus seperti ini adalah “akan terus berjuang, karena takut menyesal dikemudian hari karena tidak berjuang secara maksimal.” 
Bimbang antara berjuang atau di buang.
Banyak yang bilang kalau “semua cowok sama aja, selalu nyakitin.” Padahal enggak juga. Yang membuat cowok terlihat lebih banyak salah adalah karena “cewek lebih banyak ngomong kalau di sakiti, sedang kan cowok berbeda. “
Dalam kasus ini cowok menjadi korban perasaannya, perasaan yang tak berujung. 
“Wil , tadi gue ketemu Vivi tuh di kampus.” Teriak Iwan dari balik kamar mandi.
“Trus.” Jawab Willy santai sembari membuka playlist music di handphonenya. Beberapa detik berlalu willy masih memilih lagu yang dirasa cocok untuk memperbaiki moodnya pagi ini.
“Dia cariin elu katanya.” Terdengar suara air berjatuhan ke lantai.
“Oh…. Oke Wan. Makasih infonya.”
“Eh Wil, lu yakin gak mau baikin hubungan dengan Vivi.” Suara Iwan terdengar tidak jelas karena dia berbicara sambil sikat gigi.
“Baikin gimana Wan… dari dulu kami begini-begini aja.” Diringi lagunya metalica versi dangdut yang baru didownloadnya tadi malam dengan wifi kampus.
“Maksud gue kalian kan sama sama………………………..”
“Gue berangkat duluan !!” terdengar suara pintu terbuka, lalu ditutup kembali. Terdengar seperti pintu yang dibanting. Nampaknya Willy sedang buru-buru pagi ini.
“Yah ,, gue belum selesai ngomong Wil.” Iwan melanjutkan mandinya yang sempat tertunda karena ngobrol dengan Willy.
Sesampainya dikampus Willy langsung bergegas kekantin. Bukan hanya untuk mengisi perut yang sudah teriak tidak jelas, tapi Willy sudah janjian dengan Icha. Adik tingkat Willy dari jurusan sebelah.
Pagi ini seperti biasanya willy membaca beberapa komik didalam tasnya yang belum habis dibacanya. Anime jepang manis menjadi komik favoritnya. 
Walaupun jomblo Willy bukan orang yang gampang galau dan merasa kesepian. Willy adalah tipe orang yang gampang mencari kesibukan dan aktifitas untuk mengisi waktu luang. Selain kreatif Willy juga punya banyak hobby yang bisa dilakukannya untuk mengisi waktu kosong.
Willy bukanlah seorang cowok jelek dengan kumis nyambung ke ketek, yang selalu ditolak di awal PDKT dengan cewek. Tapi willy semacam dapat kutukan untuk selalu suka dengan pacar orang. Atau bisa dibilang “selalu suka dengan cewek yang sudah punya pacar.”
Bahkan minggu lalu Willy berkenalan dengan seorang cewek bernama Lia. Beberapa hari berkenalan dengan Lia membuat Willy merasa nyaman dan ingin mengajak Lia makan malam. Tapi beberapa hari sebelum mereka pergi makan malam, Lia sudah punya pacar. Boom !!
Minimal Willy pernah naksir dengan cewek yang masih jomblo, walaupun pada akhirnya diambil orang juga.
“Hey Cha, sudah lama nunggu ?” Tanya Willy sedikit grogi.
Ini adalah pertama kali mereka bertemu langsung, icha adalah gebetan terbaru Willy, dan masih jomblo. Sudah beberapa hari ini mereka dekat dan sering waatsapan.
“Enggak kok Wil baru juga beberapa menit.“ Icha juga sedikit grogi dengan pertemuan pertama mereka. Icha terlihat selalu merapikan rambut pirangnya. Sesekali juga membetulkan poninya yang terlihat terlalu panjang dan hampir menutupi seluruh dahi. Entah mengapa icha memilih tempat yang paling pojok, deretan belakang kantin kampus dekat jendela yang sudah berdebu. Mungkin icha berfikir tempat yang sepi memang enak untuk ngobrol.  
Ada beberapa orang yang sedang focus menikmati santapan makan siang, namun ada beberapa orang juga yang sekedar merokok dan minum kopi sembari mengobrol dengan temannya. 
“Hehe, iya. Lebih lama nunggu dia putus sama pacarnya, berbulan bulan.”
Willy terdiam dengan wajah datar. Wajahnya seolah berbica “HEY WIL WHAT YOU SAY.”
Icha terlihat bingung dan sedikit menggaruk kepala bagian belakang yang tidak terlalu gatal. Ada pertanyaan besar diwajah icha. Tapi icha masih berusaha tenang. 
Setelah lama berbincang Willy berhasil mencairkan suasana dan semua berjalan lancar. Selancar jalan tol di hari libur nasional. Kayanya malah tambah macet deh. Minimal Willy tidak keceplosan soal Vivi.
Berbicara soal Vivi, Willy dan Vivi pernah dekat 7 bulan yang lalu, sangat dekat seperti anak kembar. Tapi tidak kembar. Oke lanjut.
Banyak yang tau mereka saling suka, banyak yang percaya kalo mereka jodoh .
Ya minimal  mereka adalah pasangan yang ideal untuk jadi bahan percontohan bagi mahasiswa yang lain. Tapi dari sekian banyak opini soal mereka berdua, faktanya adalah mereka tidak pernah jadian.
Jadi sekarang banyak yang mengira bahwa mereka berdua putus. Dan banyak pula yang kecewa dengan hubungan mereka. Entah mengapa mereka berdua sempat menjadi pasangan terfavorit di kampus. Dari cara mereka mejalani hubungan, cara mereka memberikan perhatian, dan cara mereka membobol ATM semua menjadi contoh untuk mahasiswa yang lain. Bahkan dosen.
Sudah sebulan ini Willy berburu adik adik tingkat dengan alasan “regenerasi aja, teman angkatan kita kan sudah pada lulus.” Banyak yang beranggapan kalau Willy Cuma menghilangkan rasa sepi dan menutupi kesedihannya karena baru putus dengan Vivi.
“Vivi…. “ sahut Iwan dari balik jedela.
Vivi terlihat bingung. Iwan memberikan kode ingin berbicara diluar.
“Hey Wan, kenapa ?“
“Kenapa apa Vi ?“ Tanya Iwan balik.
“Kenapa muka mu makin jelek ?”
“-_- …..“
“Kenapa kamu manggil aku Wan !!” Vivi kesel setengah mati.
“Oh iya Vi.“ Iwan baru ingat tujuannya memanggil Vivi di perpus “Jadi gini vi……”

Keesokan harinya, tepat malam minggu. Willy bersiap siap dinner dengan Icha di sebuah restoran bintang lima. Biasa di sebut angkringan. Kalau di Tanya kenapa ngajak cewek dinner di angkringan jawab Willy adalah “kesederhanaan menggambarkan kesetiaan.” Lalu temannya yang lain berkata “tapi angkringan menggambarkan kemiskinan Wil.” Lalu mereka saling pukul.
Sesampainya disana Willy mencoba mengubungi Icha karena dari tadi Willy Cuma melihat sate telor dan ceker ayam juga abang yang jaga angkringan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Icha.
Willy mulai memikirkan banyak hal. Bukan mengkhawatirkan Icha tapi …. “duh utang ku belum bayar, belum bayar kos, listik, paket internet, belum sempat ngerampok bank juga.”
Beberapa menit Willy menunggu, terlihat bayangan dari arah kanan yang mencoba mendekat. Willy mengarahkan pandangangannya kearah bayangan.

“VIVI ….. KAMU ….APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI ?”
Maaf lebay. Kita ulang.
“Vivi … kamu.?” Willy bingung harus ngomong apa ke Vivi.
“Kamu ngapain disini Wil, kok sendirian.” Vivi duduk dekat Willy dikursi panjang yang terbuat dari kayu.
“Kamu juga kok sendirian, pacar mu mana?” Willy balik bertanya lalu Willy memasukan androidnya kekantung celana. Mungkin willy ingin lebih focus bicara empat mata dengan Vivi.
“Pacar aku lagi pulang kampong” Vivi menoleh kearah willy  “ada acara keluarga.” Lanjut vivi.  Vivi sadar kalau dari tadi Willy tidak mau melihat mata vivi.   
“Aku disini janjian sama Icha, ade tingkat.” Jawab Willy datar. Pandangannya mengarah ke depan, bukan arah vivi. 
“Kamu ngajak cewek makan disini,? ya gak mau lah Wil.” Vivi menutup mulutnya dengan komik yang dia genggam dari tadi.
Begitu laah vivid an willy, punya banyak kesamaan , sama sama penggemar komik.
“lah emang kenapa Vi ?,,, tempatnya bagus kok.”
“Cari tempat yang romantic dong, ini bukti nya, si siapa tadi ,,, dia gak datang”
“Si icha,,, anak semester 3 dari jurusan arsitek Vi.”
“Loh itu kan sepupunya Iwan, aku kesini karena janjian sama Iwan Wil.“ vivi memutar badannya ke arah willy, di ikutin wajah dengan ekpresi kaget campur sakit perut. 
“Tunggu- tunggu, kayanya kita dijebak deh.”
Vivi diam sejenak untuk menerjemahkan maksud kalimat willy.
Vivi merasa sedikit bingung dengan kalimat barusan, tapi lama-lama Vivi sadar  kalau dia dijebak Iwan.
“Kampret emang si Iwan.”
“Sudah biarin aja,… eh Wil. Disini kan pertama kali kita ketemu dulu Wil. 7 bulan yang lalu.” Vivi memang pundak Willy.
“Iya vi.” Jawab willy santai.
“Kayanya tempat ini berkesan banget buat kamu.”
“Iya Vi.”
“Wil kenapa sih, kamu marah sama aku.” Vivi sedikit teriak.
“Cuma kecewa  aja.” Willy melepas tangan vivi dari pundaknya.
“Kecewa…?” Tanya vivi dengan ekspresi aneh. Tapi tetap cantik.
“Iya lah, kita dekat 7 bulan. Tapi kamu jadian sama orang lain”
“Siapa suruh kamu menghilang, kamu itu yang gak ngasih kabar sama sekali.” 
“Ya aku Cuma ngerasa perjuangan aku 7 bulan ini gak ada artinya Vi.”
“Semuakan butuh proses Wil “
“Aku baru ngilang 2 bulan kamu sudha jadian sama orang lain, trus aku nungguin kamu terima aku selama 7bulan kurang lama gitu ? “
“Itu kakak tingkat aku dari semester 3 Wil, dia sudah lama suka sama aku. Yang pasti lebih dari 7 Bulan. Dia gak nyerah Wil.”
Vivi mengusapkan air matanya, pipinya basah, matanya memerah. “Aku sudah nyaman sama kamu,” Vivi melanjutkan kalimatnya ”Tapi kamu malah menghilang gak ada kabar. Kamu harusnya tau perasaan ku.!!”
Willy Cuma bisa terdiam, sekarang willy sadar kalau yang dilakukannya adalah kesalahan dari sebuah penantian panjang.
“Vi… “ willy menggenggam tangan Vivi , lalu mengusap air matanya dan di akhiri dengan pelukan. “kita bisa mulai dari awal lagi kan?”
“Dari awal ?”
“Iya, waktu pertama aku ketemu, kamu kan juga punya pacar. Tapi aku tungguin sampai kamu putus,” Vivi makin mengis kencang dalam pelukan Willy.
Semua orang tau kalau penantian Willy belum berakhir, tapi harapan selalu tumbuh dari awal kisah yang baru. Sama seperti 7 bulan yang lalau, lembaran baru telah dimulai.
Karena yang terpenting dari resmi jadian adalah mencintai orang yang tepat walaupun di waktu yang salah. Waktu masih jadi pacar orang misalnya.   



Jumat, 30 Desember 2016

APAKAH KAMU ORANG YANG SAYA BENCI ?


Dalam hidup ini kita pasti punya sesuatu yang di sukai, atau malah dibenci. Tiap-tiap orang punya selera yang berbeda. Setelah dipendam selama jutaan tahun saya akan menulis apa saja yang tidak saya sukai disekitar saya. Jangan marah kalau anda ada didalam hal-hal yang tidak saya sukai. Siapa suruh baca.
Pada awalnya saya akan membahas hal-hal yang tidak disukai, dan juga hal-hal yang disukai. Tapi saya berfikir hanya focus ke hal-hal yang tidak saya sukai di sekitar saya. Minimal orangnya akan sadar kalau dia masuk dalam daftar orang yang tidak saya sukai. Entah itu perbuatannya, sifatnya atau mantannya.
Saya berharap ini akan membuat saya sedikit lebih bahagia dan mengurangi penderitaan juga dosa saya karena selalu (menggerutu) dalam hati. Saya juga sedikit khawatir dengan penyakit kejiwaan. Mungkin terdengar lebay dan berlebihan tapi saya merasa, saya punya lebih banyak hal-hal yang tidak disukai disekitar kita, dibandingkan orang-orang. Entah itu karena dia tidak mengutarakannya kepada saya atau memang dia gampang menerima  apa saja yang disekitar kita.
Demi kesehatan mata dan jari saya, kita langsung aja.

Saya benci orang yang suka foto pake camera action yang dikasih tongsis dan waktu foto dia liat hp, bukan kamera.

Saya benci orang yang tidak read bbm untuk mengakhiri chat dengan saya. Warna biru itu sangat mengganggu. Sering kali saya harus end chat atau menghapus chat untuk menghindari melihat warna biru itu (D bbm belum dibaca.)

Saya benci orang yang terlalu fanatic terhadap club sepak bola apapun. Bahkan di kontak bbm saya ada yang mengganti namanya menjadi salah satu club sepak bola.
NORAK!!. Maksud saya, silahkan anda fanatic sesuka anda, tapi jangan keliatan saya. Sepak bola itu (sebagian besar adalah judi dunia) sudah tidak ada sportifitas. Pengaturan skor sangat mungkin terjadi. Ketika uang berbicara, anda bisa apa? Yang anda tonton adalah drama. (ini pendapat pribadi.)

Saya benci orang yang suka ganti DP (display picture) di BBM terlalu sering dan fotonya itu-itu aja. Tiap kali ada yang ganti DP dengan foto yang sudah pernah di jadikan DP, hati saya selalu berkata (kan udah pernah di pake, gua sudah pernah liat kampret .)

Saya benci orang yang pake DP dari meme yang sudah sangat popular , kalau meme yang baru, saya masih bisa terima. Misalnya lagi musing AFF 2016, trus bermunculan meme soal pemain timnas kita. Its oke. Tapi kalau meme yang sudah sering dipake atau terlalu popular saya selalu ingin berkata kasar.

Saya benci orang- orang yang tidak bisa menerima perbedaan. Suatu hari saya bertemu teman dirumah sakit, beberapa menit ngobrol dan lewatlah perawat laki-laki menggunakan celana gantung di atas mata kaki. Lalu teman saya berkata dengan lembut
“kok gitu celananya ya.”
Lalu saya perhatikan perawat tersebut dengan seksama, lalu saya melihat jenggot yang tebal dengan jidat yang hitam. Saya berfikir perawat ini punya komitment yang sungguh-sungguh terhadap agama. Dan itu biasa menurut saya. Tapi bagaimana dengan teman saya.

Saya benci orang yang terlalu pamer pacar dimedia social.

Saya benci orang yang terlalu ribut dimedia social.
Saya benci orang yang mengaku sholeh atau sholehah ketika dapat rezeki padahal saya tau bagaimana sholatnya orang tersebut. Ketika mendapat kan rezeki seraya ia berkata.
“rezeki anak sholeh emang gak kemana.”
  
Saya benci 9 perbuatan di atas. Kwekekekeke. Kan tanggung bro kalau Cuma 9.

Terimakasih sudah membaca sampai habis.

Minggu, 13 November 2016

PATAH HATI MIKO

“Becanda lu mik,” teriak Alan dari balik wc.
“Iya lan, serius gue.” Jawab Miko datar. “gak tau deh setelah ini gimana?”
“Maksudnya gimana mik?” Tanya Alan di ikuti suara “PLUNG.”
“Dari awal gue pacaran sama Siska, gue belum pernah ngebayangin bakal putus dengan cara sesimple ini.” Di ikuti suara “PLUNG PLUNG.”
“Yaudeh Mik, ada gue, teman gue banyak kok yang jomblo….”
“hehe iya Lan, emang elu temen gue yang paling …..”
“Tapi cowok semua mik,” Alan cepat-cepat memotong perkataan gue.
“Kampret lu lan, berak air lu 3 tahun!!.”
Percakapan tadi berakhir dengan WC yang belum di siram. mereka berdua memutuskan untuk tidak bertanggung jawab atas noda-noda kuning yang berserakan. Entah bagaimana baunya.
Beberapa langkah setelah keluar dari WC terdengar suara “WAW, ADA TAI DIMANA-MANA!.” Alan dan Miko buru-buru menggali lubang di tanah untuk tempat persembunyian.
Percakapan mereka lanjutkan di kamar Miko, eh bukan kamar Alan. Maaf ternyata mereka memang sekamar. Oke lanjut.
“Elu kok tenang-tenang aja Lan,” miko menyandarkan tubuhnya di dinding seperti beruang madu yang lagi PMS.
“Tenang apaan Mik?” Tanya Aalan penasaran.
“Elu kan sudah lama putus sama si siapa tuh, Bella ya.” Miko menggaruk-garuk kepalanya…dengan kaki.
“Gue mah, kaga bisa move on dari Bella Mik.” Alan berjalan kearah gantungan baju dibalik pintu. Alan mengganti bajunya dengan kaos pembagian partai yang di dapatnya minggu lalu. 
“Tapi kok elu gak galau Mik?”
“Maksudnya, gue bukan gak bisa move on kaya kebanyakan orang yang sedih dan galau gitu. Gue sama Bella masih berkomunikasi dan sesekali jalan bareng Mik.”
“Loh kok bisa gitu, pasangan macam apa kalian?” Tanya miko kesal.
“Kami berdua sepakat hanya membeci perpisahannya Mik, bukan orangnya. Jadi kami baik-baik aja sampai sekarang. Jujur gue belum bisa buka hati untuk cewek lain Mik.” Alan melepaskan lagi kos partainya setelah sadar kaosnya terbalik.
“Kunaon maneh teh?  Masih sayang sama Bella?” Tanya Miko di ikuti suara teriakan “ADA TAI BERHAMBURAN DI WC!!”
“Bukan, gue lupa naroh kuncinya muehehe”
Hening …….
“Lan , gue gak yakin setelah putus gini apa gue masih bakal teguran sama Siska, tapi gue bakal coba cara elu deh.”
“ Cara yang mana Mik?.”
“Itu tadi, Cuma membenci perpisahannya, bukan orangnya.”
“Emang bisa ?” Tanya alan dengan nada mengejek.
“Ya di cobalah, kenapa emang? “
“Itu cuman bisa dilakukan orang-orang yang punya kemampuan boker sambil tengkurap hahaha.”
“GIGI LU PEANG!”
Alan dan Miko bersiap-siap pergi ke kampus. Miko menggati kaosnya dengan kemeja kotak-kotak warna biru, serta celana jins hitam. Alan tetap menggunakan kaos partainya untuk pergi kekampus, entah apa yang terjadi dengan otak Alan. Mungkin dosennya menjabat ketua partai.
Sesampainya di kampus Alan dna Miko memisahkan diri. Miko ingin pergi ke WC karena urusan perut yang belum kelar. Setelah selesai dengna urusan perutnya Miko kembali mengulangi perbuatannya untuk tidak menyiram WC setelah di nodai denan nista. Beberapa langkah setelah keluar dari pintu WC Miko bertemu dengan Siska. Mantan kemaren sore.
Mereka berdua sama-sama masih belum move on. Tapi mereka sama –sama tidak menunjukan kesedihan di wajah mereka. 
“Hei Sis,” Miko membuka percakapan. Dilanjutkan dengan senyum tipis.
“Hei juga Mik” Siska merapikan poninya yang mulai menutupi sebagian matanya. “Sehat?.”
“Belum move on,, eh masuksudnya lagi mules nih Sis.” Miko menggaruk bagian belakang kepalanya.
“emmm, Mik.”
“iya, kenapa ?”
“Elu gak marah sama gue ?” Tanya Siska sedikit malu. Di ikuti gerakan mengigit bibir bawah.
Sampai sekarang Siska masih merasa bersalah atas apa yang dilakukkannya ke Miko. Tapi Miko sudah membuktikan bahwa dia tidak akan membenci orangnya, tapi hanya membenci perpisahannya.
“Enggak dong.” Jawab Miko datar.
“Serius ?” Tanya Siska seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
“Elu memang patah hati terhebat gue, tapi gue gak bisa benci sama elu. Sampai kapan pun gue akan tetap sayang sama elu sis.”
Siska tersenyum, Miko tersenyum, dan semoga Pak Dahlan iskan tidak ikut-ikutan senyum lagi.
Move on level tertinggi adalah bisa ternyum dengan mantan, bahkan menyapa terlebih dulu saat bertemu. Bukan sembunyi atau menghindar saat melihat mantan ada di depan mata. Hargailah mantan kalian sama seperti teman-teman yang lain, kecuali dia pernah berak dengan posisi tengkurap.   

Selasa, 08 November 2016

Curhat Jessica alias jeje

Kamu tau apa yang lebih buruk dari hari buruk? Jawabannya adalah hari ini aku ketemu mantan yang sedang Cosplay jadi tiang infus. Atau mantan  yang berubah jadi breweok wak doyok. Terserah lah,  ku harap kamu percaya semua cerita ku.
Tapi harus nya kau tidak perlu percaya semuanya,, ada beberapa yg ku sembunyi kan. Termasuk sebuah kerinduan yang bisa jadi bom waktu, bom atom,  atau apasajalah. Pilih sendiri sesuai selera mu. Bikin pusing saja.
Aku Jessica, biasa di panggil ica alias jeje. Bahkan ada pula yang memanggil "eh kampret"  ketika aku menginjak kakinya  dengan sepatu bola milik atlet renang. Bambang pamungkas.  He he
Kadang aku berfikir untuk apa atlet renang punya sepatu bola, kadang aku juga tidak berfikir kalau lagi malas berfikir. Bahkan aku pernah menyerah seseorang untuk berfikir. Aku kaya, tapi malas.
Kamu harus tau,  aku lebih malas untuk ingat kamu.
Sejujur nya aku lebih suka di panggil jeje dari amat tompel. Dan aku bersyukur banyak yg memanggil jeje, itu biasa terjadi kalau aku mengancam untuk membuat bola matanya berada di hidung.
"kamu? " tanya gelas plastik. Tidak, itu bukan nama sungguhan. Dia mantan ku dari planet Mars.
" aku?.. Kenapa " jawab ku santai. Serius aku santai, cuma sedikit gemetar dan keringat dingin.
" jeje, kamu apa... Ka.. Kabar?"
Aku tersenyum, nampaknya dia juga cukup canggung.
"baik " jawab ku." kamu?. "
" aku??"
" Iya kamu, kabar kamu gimana? "
" mau nya? "
" hah? "
" kamu maunya kabar ku gimana? "
" aku sih... " aku berfikir sebentar." maunya gak ketemu kamu. "
Gelas plastik diam. Aku juga. Dahlan iskan juga.
Entah kenapa ada Dahlan iskan. Aku tak perduli.
" aku bercanda " jawab ku.
Aku tersenyum, ku harap suasana jadi sedikit hangat, gelas plastik juga senyum. Dahlan iskan juga senyum.
PAK, TOLONG JANGAN GANGGU KAMI.!!
" jujur aku masih sakit, aku lebih suka kalau tidak bertemu kamu, dan kamu tidak menanyakan kabar ku" jawab ku dengan tangan ku masukan ke kantong celana.
"maaf jeje, aku...... "
Entah kenapa dia tidak melanjutkan perkataannya, mungkin dia bingung, aku lebih bingung. Dahlan iskan bingung parah.
Entah kenapa pak Dahlan iskan suka ikut campur di Blog nya bayu.
" apapun yang terjadi, aku lebih baik sendiri dan tidak bertemu dengan mu lagi. " aku tau perkataan ku membuat nya sakit. Tapi dia lah yang mengajari ku seperti ini. Kamu tau rasanya di tinggalin saat sedang boker di sungai?  Begitu kira kira perasaan ku waktu itu. Untung lah pak Dahlan iskan memberi ku gabung untuk cebok.
Gelas plastik cuma tertunduk menyadari kesalahan nya. Aku pun ikut tertunduk. Pak Dahlan iskan juga......
Tidak, aku suka menyuruh pak Dahlan iskan pulang ke rumahnya atau ke ruang KPK. Ini kenapa jadi acara berita gini sih.
Aku Jessica, alias jeje alis ica. Semoga kita semua di selamat kan dari mantan yg suka pura pura jadi kabel charge Nokia ketika kita membutuhkan nya.

Sabtu, 29 Oktober 2016

CURHAT KARLA

Pagi ini bukan seperti pagi lainnya.

Walaupun matahari masih terbit, tapi aku
Masih belum bisa merasakan kehangatan nya.

Ku angkat kepada ku, ku sandarkan tubuh ini ke dinding kamar.
Ku buka kain yang membatasi sinar matahari masuk ke kamar ku.
"hai, Karla " teks itu terkirim setelah beberapa detik aku ketik.

" kenapa kenapa jov" balas Karla.
" hari ini, bisa bertemu? "
" tentu,  tempat biasa ya"
Aku tersenyum, akhirnya ada yg bisa mendengar kan curhat ku.
Dia Karla, cantik nyaris sempurna. Aku selalu kagum padanya.
Tidak, aku akan selalu berteman dengannya. Selalu. Doakan saja.

Aku perintah kan otak ini untuk mengirim perintah ke seluruh tubuh untuk mandi.
Aku selalu berharap mandi bisa menaikkan ke tampanan ku, walaupun hasilnya selalu mengecewakan. Hehe aku selalu bodoh.
Sesampainya di tempat tujuan, karla sudah duduk manis dengan kopi di genggamannya.
"hai karla, sori telat, tadi bingung mau pake muka yg mana hehe" aku ambil kursi, lalu duduk. Apa kamu pikir aku akan melempar kursi ini ke wajah karla ?  Lain kali akan ku lakukan. Hehe

"stok muka kamu pasti jelek semua ya jov? " karla tertawa sembari menutup gingsul nya.
" kok gitu sih kar? " tanya ku penasaran bercampur kesal.
" kalo kamu punya stok muka yg ganteng pasti kamu gak pake yg ini" karla menunjuk wajah ku. Lubang hidung sebelah kiri tepatnya.
"iya karla, lakukan apa yg kamu suka"

" tuh kan Jovi marah, aku traktir deh hari ini " karla mencabut bulu hidung ku, 17 helai.
Setelah itu kamu berdua diam, hampir 25 detik. Aku menundukkan pada pandangan.
" karla, aku mau curhat bisa kan? " tanya ku sedikit ragu.
Karla mengangguk, sepertinya dia memang tau maksud ku ingin bertemu hari ini.
" putus ya kamu jov,? " pertanyaan karla mengejutkan aku sampai bulu hidung ku rontok lagi.
" kok? "
"  tau lah,  apa sih yang gak aku tau dari kamu jov" karla merapikan rambut ku. Karla selalu memperlakukan aku seperti adik nya sendiri, padahal aku mengaguminya lebih dari seorang kakak perempuan.
"kar, memang nya kalau aku mengerebut pacar orang, apa pacar aku pasti di rebut orang lain juga ya? "
" ohhhhh gitu, jadi cewek yang kemarin kamu ambil dari siapa jov? "
" bukan ngambil kar,  aku cuma jadi versi yg lebih baik dari pacarnya waktu itu, tapi teman teman nya bilang aku ngerebut dia dari pacarnya. "
" mungkin mereka cuma tau dari sisi luar nya aja jov, aku percaya kalo kamu niat nya baik jov"
" makasih ya kar "
" trus? "
" trus apa kar? " tanya ku sedikit bingung.
" sekarang mau ngapain, mau dekatin pacar orang lain lagi? " karla tersenyum tipis.
Sampai disini aku sadar, aku memang tidak merebut dia dari pacarnya, tapi aku cuma salah karena datang di waktu yang tidak tepat. Harusnya aku datang di saat dia sudah sendiri.
" kalau dia memilih kamu, bukan berarti kamu lebih baik,  tapi dia aja yg gampang berpindah hati jov. "
Perkataan karla memukul hati ku dengan kuat. Aku baru sadar apa yang aku lakukan dulu itu salah.
Dengan bangga nya dulu pernah bilang" aku lebih baik dari pacarnya, buktinya dia memilih ku. "
" kar, makasih ya,  aku sekarang sudah sadar "
Karla menempel kan jempol nya dia depan hidungku. Dari jauh lebih mirip orang yang membantu temannya mengupil dengan bantuan jempol.
" trus? "
" trus apa kar? "
" masih mau kaya kemaren lagi? "
" kemaren gimana kar? "
" dekatin cewek orang lain lagi bego!! "
" ohhhhh enggak kar,  sudah kapok "
" trus? ""
"trus apa kar? "
" trus kamu mau ngapain bego! "
" aku mau dekatin yang jomblo aja kar "
" siapa? "
" belum tau sih hehe"
" bego"
" kamu dapat rekor nih kar "
"  apa? "
"  ngatain aku bego 3 kali dalam 15 detik"
" maaf jov,  hilaf " karla mengusap rambut ku, sesekali dia mencabut rambut ku sampai botak.
Kami diam sejenak, mungkin hampir 1 menit. Percaya pada ku,  aku menghitung nya.
" jov aku jomblo loh" tiba tiba karla memecah kesunyian. 
Jujur aku bingung, tapi matanya berbisik sesuatu, mata seolah berbicara "ayo pacarin aku."
Aku tersenyum,  aku tau maksudnya.
"karla, "
" apa "
" mau jadi pelabuhan untuk hati aku gak?"
Karla tersenyum, aku pun tersenyum, tukang parkir kesurupan.

Pages

Total Tayangan Halaman

Kontak Saya

Kontak Saya
Scan Disini Untuk Mendapatkan Kontak Saya

Translate

Pengikut

Popular Posts