Matanya tak lagi bisa bersinar, tangannya tak bisa lagi menggenggam erat. Bahkan untuk tersenyum beberapa detikpun ia tak mampu. Nafasnya tak beraturan, dadanya sesak penuh beban, fikirannya sudah terbang entah kemana. Sebuah perasaan yang tidak semua orang kuat menanggungnya.
Patah hati.
Bibirnya kelu, matanya sayup, keningnya mengalir keringat dingin. Pascal kini Cuma bisa menghibur diri dalam sedihnya. Kali ini mungkin adalah patah hati terhebat yang pernah dia rasakan. Patah hati yang seharusnya bisa dia persiapkann sebelumnya. Sesekali pascal mencoba mengheningkan cipta sejenak untuk membuat dirinya tebih tegar.
Tidak ada yang lebih buruk ketika kamu tau kapan kamu akan terluka. Terluka yang sudah ter-jadwal. Sakit yang sudah di rencanakan, dan pahit yang akan diterima pada akhirnya.
Kucing kesayangannya baru saja mati keracunan, bola basket kesayangannya juga baru hilang beberapa hari yang lalu. Itu adalah sekian dari banyak kejadian buruk yang baru saja menimpa pascal beberapa hari ini.
Buku-buku cinta yang ia baca tak cukup membuatnya kebal terhadap patah hati, buku yang ia baca Cuma bisa membuatnya gampang mendapatkan kekasih yang baru. Dan itu tidak cukup baik untuknya. Karena yang terberat bukan mendapatkan cinta seseorang , tapi melupakannya ketika kamu masih memiliki perasaan.
Sesampainya didepan wisna temapat ia menginap, pascal lupa menaruh kunci pagar wisma yang seharusnya bisa membuatnya masuk dan beristirahat dikamarnya yang berantakan. 2 menit berselang pascal masih belum menyerah untuk menemukan kuncinya di semua saku celana. Sesekali ia memerika dompet usangnya. Pascal terus berharap kalau kuncinya Cuma terselip diantara uang koinnya yang tidak terlalu banyak. Sambil memeriksa disemua bagian tubuhnya, pascal mencobab mengingat-ingat lagi dimana ia terakhir menaruh kunci sialan itu.
“Ini sudah jam 2 malam, tidak mungkin aku membangunkan temanku untuk membukakan pintu pagar,” sahur pascal sedikit kesal.
Beberapa kali pascal sempat berfikir untuk pergi ke kos temannya dekat sini. Berharap dapat tumpangan untuk malam ini hingga esok hari sampai pagar wisma sudah terbuka. Tapi lagi-lagi rasa tidak enak membuatnya mengurungkan niatnya.
“Ini terlalu malam, semua teman ku pasti sudah tidur,” pascal mengepalkan tangannya tanda kesal.
Pascal mulai menyerah dan mulai berhenti untuk mencari kunci disemua saku celananya, perlahan dia duduk didepan pagar membalikan badannya ke arah jalanan, dan menyendarkan kepalanya ke pagar wisna dengan gembok 5 biji yang melekat erat.
Udara sudah mulai menusuk tulangnya, kaos hitam yang ia kenakan sama sekali tidak bisa membuatnya hangat dari terpaan angin malam. Satu dua kali pascal menengok ke arah wisma berharap ada yang bisa membantunya. Tangannya pun mulai terlihat pucat, matanya semakin memerah, bibirnya pucat bagaikan tak ter-aliri oleh darah.
Dari arah depan terlihat beberapa kendara yang masih melintas dengan kecepatan rendah, lampu kendaraan beberapa kali membuatnya merasa silau. Dari kejauhan terdengar suara kodok dan jangkrik mulai bersahutan. Nampaknya mereka sudah sangat akrab.
Sesekali pascal hampir tertidur dengan kepala bersandar di pagar. Kedua tangannya memeluk erat kedua kakinya yang di tekuk. Cara ini bisa sedikit menghangatkan tubuh pascal. Pascal masih belum berhenti berfikir kenapa beberapa hari ini dia mengalami nasib yang buruk, dan yang terburuk adalah malam ini.
Pascal masih bisa merasakan hangatnya genggaman tangan ria.
“pascal,,,,”
“ria,, kamu...!”
“kamu ngapain disini, bukannya masuk ke wisma sana,” tanya ria dengan wajah penasaran.
“eeeeeerrrrr, kunci aku hilang ri.” Pascal terlihat sedikit bingung.
“gak ada yang hilang, yang ada Cuma berpindah tempat.” Ria duduk disamping pascal dan menirukan gaya duduk pascal.
“seperti perasaan kamu, bukan hilang, tapi pindah ke orang lain, gitu kan,”
Ria Cuma diam. Dia tau kalau dia yang salah. Tapi sudah terjadi dan pascal sudah ikhlas kalau ria pergi dengan orang lain.
“mungkin sekarang hati aku enggak di kamu lagi, tapi perasaan nyaman selalu ada di kamu. Ketika aku dengan orang lain, gak ada yang bisa jamin bakal senyaman kamu.” ria menoleh ke arah pascal. Tapi pascal tetap melihat ke arah langit yang gelap.
“yang aku tau, kamu ituu orang hebat. Patah hati seberat apapun pasti bisa kamu lewatkan. Tergantung motivasinya aja.” Ria merapikan rambut pascal yang berantakan.
“pascal,, “
Pascal Cuma diam dan tetap melihat ke langit dengan wajah sendu.
“kamu harus yakin kalau kamu akan bertemu orang yang lebih baik dari aku.” ria mencoba meyakinkan pascal.
“itu Cuma masalah waktu kok,” ria tersenyum.
Malam ini mereka berdua patah hati secara ikhlas. Mereka berdua sepakat untuk tetap melanjutkan mimpinya masing masing.
“keputusan ku untuk jatuh cinta dengan kamu adalah patah hati yang paling sengaja, karena sesungguhnya jatuh cinta itu satu paket dengan patah hati.” Pascal memeluk erak tubuh mungil ria, membelai rambut panjangnya dan mencium keningnya.
Dari sekian banyak buku cinta yang pascal baca sama sekali tidak menjelaskan bagaimana caranya agar tidak patah hati. Tapi malam ini pascal tau kalau kunci dari patah hati adalah ikhlas.
Di tulis ketika patah hati. 01-09-2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar